Skip to main content

*HIKMAH TERONG BUSUK*


Alkisah ada dua kakak beradik anak seorang tukang kebun yg mempunyai karakter berbeda, mereka diberi pilihan oleh ayahnya.

Sang Ayah menyuguhkan dua buah terong kepada kedua anaknya. Satu terong muda dan segar, sedang yg satu lagi terong tua dan busuk.

Sang Kakak langsung buru-buru mengambil terong muda dan segar lalu menyantapnya hingga habis.

Sementara adiknya tak bisa memilih lagi, ia harus menerima terong tua dan busuk.
Sang Adik mencoba merenungi keadaan ini. Ia selalu berpikir positif sambil berkata dalam hati; "ini pasti ada hikmahnya." Dipungutnya terong busuk itu dan ia pisahkan semua biji2nya lalu ia menanamnya.

Akhirnya biji2 terong itu tumbuh subur dan berbuah lebat hingga Sang Adik memiliki kebun terong yg luas. Sementara itu, si Kakak tidak memiliki apa-apa, bahkan kehidupannya kini ditanggung oleh adiknya.
********

Pesan Moral :
Umumnya manusia itu senang kalo menerima sesuatu yg baik, perlakuan yg baik, pujian, sanjungan serta segala hal yg baik2 dan benci pada hal yg jelek, tak suka menerima hal yg jelek, celaan, kritikan, bahkan cenderung mengacuhkan pada semua hal2 yg dianggapnya jelek.

Tapi.. tentu kita pernah mendengar kata bijak ''Hadiah istimewa tidak selalu terbungkus rapi dan indah''.

Inilah salah satu cara Tuhan memberikan kasih sayang pada hambaNya yg selalu bersyukur, bersabar dan berprasangka baik.

Meski awalnya pahit, namun pada akhirnya akan dirasakan manisnya yg berkepanjangan.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." [Al-Baqarah : 216]

Comments

Popular posts from this blog

DOA BERBAHASA JAWA

Mengenai doa dengan bahasa daerah, KH. IDRIS MARZUQI LIRBOYO pernah dawuh :“Kowe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali jaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidlir. Nabi Khidlir yen ketemu wali Jowo ngijazahi dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.”(Kamu jika mendapat doa-doa Jawa dari kiai yang mantap, jangan ragu. Kiai-kiai itu tidak mengarang sendiri. Mereka mendapat doa Jawa dari wali-wali jaman dahulu. Wali itu mendapat ijazah doa dari Nabi Khidlir. Nabi Khidlir jika bertemu wali Jawa memberi ijazah doa memakai bahasa Jawa. Jika bertemu wali Madura menggunakan bahasa Madura)Tutur kata para nabi dengan bahasa kaum merupakan salah satu sunnah Ilahi yang pasti. Allah Swt berfirman, Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (QS …

ILMU SYAHADAH - TINGKATAN ILMU TERTINGGI ANUGERAH ALLAH

Ilmu syahadah adalah suatu ilmu yang paling tinggi didalam tingkatan pelajaran ilmu Allah yang dapat dikuasai oleh manusia. Ia merupakan martabat ilmu yang tertinggi. Ilmu ini adalah suatu ilmu makrifat dan syahadah secara sebenar-benar kepada Allah swt. Ilmu ini, Allah sendiri akan mengajar manusia mengenai diriNya. Dengan lain bisa dikatakan juga bahwa ilmu syahadah adalah ilmu untuk menyatakan diri Allah itu sendiri. Hanya orang-orang yang mencapai martabat ilmu ghaib yang paling tinggi saja yang dapat menguasai ilmu syahadah ini. Sedangkan Ilmu Ghaib dan Ilmu Syahadah tidak mungkin bisa dikuasai oleh orang-orang yang non muslim, ilmu ini hanya boleh dikuasai oleh orang Islam tapi mengapa orang Islam di zaman ini ketinggalan sekali disemua bidang ? pastilah ada penyebabnya………….!!!!! Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor penyebab kelemahan umat Islam di zaman ini untuk menguasai Ilmu Allah yang tinggi ini antara lain : 1. Jatuhnya beberapa kerajaan Islam termasyur di dunia mi…

SYAHADAT ORANG JAWA

Ketika Islam merasuk ke tanah Jawa secara massif pasca-kehancuran Majapahit, ada suatu proses penyesuaian ajaran untuk bisa diterima masyarakat Jawa yang sudah memiliki agama sendiri: ajaran Jawa Kuno dan Siwa Sogata. Dua ajaran tersebut meyakini bahwa segala sesuatu berada di dalam diri manusia, termasuk Allah dan Rasul Muhammad. Bagi orang Jawa, Allah adalah Sang Aku, Urip (Hidup), sesuatu yang susah dijelaskan di dalam diri manusia, yang “tan kena kinaya ngapa” (laysa kamitslihi syai’a). Aku dan Urip sejatinya sama, sehingga ajaran Kejawen membuat pernyataannya yang terkenal terkait itu: Aku Iki Urip (Aku Ini Hidup). Oleh orang Jawa, Rasul Muhammad dipahami sebagai Atma/Ruh. Atma/Ruh inilah rasul/utusan yang sebenarnya dari Allah/Aku/Urip. Atma/Ruh inilah yang membuat makhluk bisa tampak memiliki kehidupan dan beraktivitas. Oleh karenanya Atma/Ruh disebut Kang Nggawe Urip (yang membuat makhluk bisa beraktivitas). Bagi orang Jawa, Allah dan Rasul Muhammad tak bisa dipisahkan dan sej…