Skip to main content

SYAHADAT ORANG JAWA


Ketika Islam merasuk ke tanah Jawa secara massif pasca-kehancuran Majapahit, ada suatu proses penyesuaian ajaran untuk bisa diterima masyarakat Jawa yang sudah memiliki agama sendiri: ajaran Jawa Kuno dan Siwa Sogata. Dua ajaran tersebut meyakini bahwa segala sesuatu berada di dalam diri manusia, termasuk Allah dan Rasul Muhammad. Bagi orang Jawa, Allah adalah Sang Aku, Urip (Hidup), sesuatu yang susah dijelaskan di dalam diri manusia, yang “tan kena kinaya ngapa” (laysa kamitslihi syai’a). Aku dan Urip sejatinya sama, sehingga ajaran Kejawen membuat pernyataannya yang terkenal terkait itu: Aku Iki Urip (Aku Ini Hidup). Oleh orang Jawa, Rasul Muhammad dipahami sebagai Atma/Ruh. Atma/Ruh inilah rasul/utusan yang sebenarnya dari Allah/Aku/Urip. Atma/Ruh inilah yang membuat makhluk bisa tampak memiliki kehidupan dan beraktivitas. Oleh karenanya Atma/Ruh disebut Kang Nggawe Urip (yang membuat makhluk bisa beraktivitas). Bagi orang Jawa, Allah dan Rasul Muhammad tak bisa dipisahkan dan sejatinya berada di dalam diri manusia sendiri.

Bagi orang Jawa, Allah tidak dipahami sebagai sosok personal di atas sana yang harus diimani dan terpisah dari diri. Demikian pula Rasul Muhammad; secara hakiki ia tidak dipahami sebagai sosok personal yang pernah hidup di tanah Arabia pada suatu masa. Syahadat sejati orang Jawa adalah menyadari keberadaan Aku/Urip dan Atma/Ruh di dalam diri mereka sendiri. Bagaimana bisa orang Jawa bersyahadat pada Kanjeng Nabi Muhammad sementara mereka sama sekali tidak pernah bertemu dengan beliau? Palsulah kiranya sebuah kesaksian tanpa tahu yang disaksikan.

Itulah salah satu penyesuaian ajaran Islam ketika merasuk ke tanah Jawa. Ajaran Islam mengalami proses “penaklukan” terlebih dulu sebelum bisa diterima masyarakat Jawa. Konsep Islam yang cenderung kepada “kodhok kinêmulan leng” (kodok yang diselimuti liangnya)” diubah sedemikian rupa oleh orang Jawa menjadi “kodhok angêmuli leng” (kodok yang menyelimuti liangnya). Demikianlah aplikasi leluhur Jawa terkait unen-unen yang terkenal selama beberapa dasawarsa terakhir: Jowo digowo, Arab digarap.

Comments

Popular posts from this blog

ILMU SYAHADAH - TINGKATAN ILMU TERTINGGI ANUGERAH ALLAH

Ilmu syahadah adalah suatu ilmu yang paling tinggi didalam tingkatan pelajaran ilmu Allah yang dapat dikuasai oleh manusia. Ia merupakan martabat ilmu yang tertinggi. Ilmu ini adalah suatu ilmu makrifat dan syahadah secara sebenar-benar kepada Allah swt. Ilmu ini, Allah sendiri akan mengajar manusia mengenai diriNya. Dengan lain bisa dikatakan juga bahwa ilmu syahadah adalah ilmu untuk menyatakan diri Allah itu sendiri. Hanya orang-orang yang mencapai martabat ilmu ghaib yang paling tinggi saja yang dapat menguasai ilmu syahadah ini. Sedangkan Ilmu Ghaib dan Ilmu Syahadah tidak mungkin bisa dikuasai oleh orang-orang yang non muslim, ilmu ini hanya boleh dikuasai oleh orang Islam tapi mengapa orang Islam di zaman ini ketinggalan sekali disemua bidang ? pastilah ada penyebabnya………….!!!!! Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor penyebab kelemahan umat Islam di zaman ini untuk menguasai Ilmu Allah yang tinggi ini antara lain : 1. Jatuhnya beberapa kerajaan Islam termasyur di dunia mi…

Dialog Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dengan Pemabuk

Keluar Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dari sekolahannya dan bersamanya para Muridnya, dan mereka melewati laki2 sedang berbaring di tanah dalam keadaan MABUK
Kemudian Syekh menghampirinya, 💬Dan kemudian si mabuk berkata :
Ya Syekh bukankah ALLAH maha kuasa?
💬Syekh tersenyum seraya berkata Iya
💬Si mabuk kembali bertanya :
Ya Syekh bukankah ALLAH maha kuasa?
💬Syekh menjawab : iya
💬Si mabuk kembali bertanya : Ya Syekh bukankah ALLAH maha kuasa?
🗯Maka Syekh Abdul Qodir gemetar dan jatuh pingsan, para muridnya bingung tidak faham, setelah beliau sadar muridnya bertanya tentang percakapan beliau dengan si mabuk.
💬Syekh Abdul Qodir menjawab : dia bertanya pertama kali, yang dimaksudnya apakah ALLAH kuasa menerima Taubatku?
💬Aku memjawab iya.
💬Yang kedua dia bertanya yg maksudnya apakah ALLAH kuasa menjadikanku sepertimu?
💬Aku menjawab iya.
💬Yang ketiga dia bertanya, apakah ALLAH kuasa menjadikanmu sepertiku? maka aku takut murka allah dan mati suul khotimah dan aku pingsan.
( Begitulah para sh…