Skip to main content

Pencuri Yang Belajar


"Pencuri Yang Belajar"
Alkisah, ada pencuri masuk kerumah seorang guru yang bijak.
Pencuri menghunus pisau dan mengancam sang guru seraya berkata, "Uang atau nyawa!!?"

Tanpa merasa terganggu, sang guru menunjukkan tempat harta bendanya disimpan, "Uang ada di laci, tetapi sisakan sedikit untuk membeli makanan."
Selesai mengemasi barang curiannya, pencuri pun bermaksud pergi dari tempat itu. Namun sang guru mengingatkan sesuatu dengan berkata pada pencuri itu :
"Setelah menerima sesuatu engkau mesti bilang terima kasih."
"Terimakasih!", kata pencuri itu sambil berlalu.

Pada akhirnya pencuri itu tertangkap, dan dibawa oleh petugas ke tempat sang guru sambil bertanya, "Benarkah ia mencuri uang Anda ?
Tanpa rasa marah dan benci terhadap pencuri itu, sang guru berkata, "Ia tidak mencuri uangku. Saya memberikannya dan ia juga mengucapkan terima kasih."
Ucapan ini membuat pencuri itu merasa terharu dan berhutang budi.
Tetapi pencuri itu tetap dihukum untuk pencurian lain yang dilakukannya.

Setelah menyelesaikan masa hukumannya, orang itu segera pergi ketempat sang guru, dan memohon agar diterima sebagai muridnya. Tentu saja ia diterima dengan senang hati.
**************
Hikmah cerita yang bisa diambil :
Meninggalkan keburukan dan segera menjadi manusia luhur sungguh sulit dilaksanakan.
Kekuatan apa yang dapat membuat orang meninggalkan keburukan ?
Belas kasih, cuma itu.
Ia yang meninggalkan keburukan dengan jalan berbuat kebajikan, maka ia akan menerangi dunia

Comments

Popular posts from this blog

ILMU SYAHADAH - TINGKATAN ILMU TERTINGGI ANUGERAH ALLAH

Ilmu syahadah adalah suatu ilmu yang paling tinggi didalam tingkatan pelajaran ilmu Allah yang dapat dikuasai oleh manusia. Ia merupakan martabat ilmu yang tertinggi. Ilmu ini adalah suatu ilmu makrifat dan syahadah secara sebenar-benar kepada Allah swt. Ilmu ini, Allah sendiri akan mengajar manusia mengenai diriNya. Dengan lain bisa dikatakan juga bahwa ilmu syahadah adalah ilmu untuk menyatakan diri Allah itu sendiri. Hanya orang-orang yang mencapai martabat ilmu ghaib yang paling tinggi saja yang dapat menguasai ilmu syahadah ini. Sedangkan Ilmu Ghaib dan Ilmu Syahadah tidak mungkin bisa dikuasai oleh orang-orang yang non muslim, ilmu ini hanya boleh dikuasai oleh orang Islam tapi mengapa orang Islam di zaman ini ketinggalan sekali disemua bidang ? pastilah ada penyebabnya………….!!!!! Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor penyebab kelemahan umat Islam di zaman ini untuk menguasai Ilmu Allah yang tinggi ini antara lain : 1. Jatuhnya beberapa kerajaan Islam termasyur di dunia mi…

DOA BERBAHASA JAWA

Mengenai doa dengan bahasa daerah, KH. IDRIS MARZUQI LIRBOYO pernah dawuh :“Kowe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali jaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidlir. Nabi Khidlir yen ketemu wali Jowo ngijazahi dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.”(Kamu jika mendapat doa-doa Jawa dari kiai yang mantap, jangan ragu. Kiai-kiai itu tidak mengarang sendiri. Mereka mendapat doa Jawa dari wali-wali jaman dahulu. Wali itu mendapat ijazah doa dari Nabi Khidlir. Nabi Khidlir jika bertemu wali Jawa memberi ijazah doa memakai bahasa Jawa. Jika bertemu wali Madura menggunakan bahasa Madura)Tutur kata para nabi dengan bahasa kaum merupakan salah satu sunnah Ilahi yang pasti. Allah Swt berfirman, Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (QS …

SYAHADAT ORANG JAWA

Ketika Islam merasuk ke tanah Jawa secara massif pasca-kehancuran Majapahit, ada suatu proses penyesuaian ajaran untuk bisa diterima masyarakat Jawa yang sudah memiliki agama sendiri: ajaran Jawa Kuno dan Siwa Sogata. Dua ajaran tersebut meyakini bahwa segala sesuatu berada di dalam diri manusia, termasuk Allah dan Rasul Muhammad. Bagi orang Jawa, Allah adalah Sang Aku, Urip (Hidup), sesuatu yang susah dijelaskan di dalam diri manusia, yang “tan kena kinaya ngapa” (laysa kamitslihi syai’a). Aku dan Urip sejatinya sama, sehingga ajaran Kejawen membuat pernyataannya yang terkenal terkait itu: Aku Iki Urip (Aku Ini Hidup). Oleh orang Jawa, Rasul Muhammad dipahami sebagai Atma/Ruh. Atma/Ruh inilah rasul/utusan yang sebenarnya dari Allah/Aku/Urip. Atma/Ruh inilah yang membuat makhluk bisa tampak memiliki kehidupan dan beraktivitas. Oleh karenanya Atma/Ruh disebut Kang Nggawe Urip (yang membuat makhluk bisa beraktivitas). Bagi orang Jawa, Allah dan Rasul Muhammad tak bisa dipisahkan dan sej…